PELUK AKU DI TENGAH BADAI

Aku lupa kapan terakhir kali hidup terasa ringan. Mungkin sepuluh tahun lalu, saat bola plastik kecil kupantulkan ketanah dan aku berlari tanpa takut jatuh. Luka di lututku waktu itu terasa besar, namun kini, luka-luka itu sudah tenggelam di bawah tumpukan luka lain, luka yang bukan berasal dari permainan, tetapi dari kehidupan yang menua terlalu cepat.

Usia enam belas tahun mestinya menjadi masa bagi remaja untuk mencari warna, merajut mimpi, menikmati masa muda yang sering orang bilang: “Paling indah.” Tapi bagiku, masa itu adalah malam-malam panjang yang tidakpernah menanyakan apakah aku kuat, apakah aku sanggup, atau apakah aku siap.

Saat anak-anak lain memikirkan ke mana mereka akan kuliah, aku justru memikirkan dari mana aku harus mencarirupiah. Saat teman-teman sebayaku bercerita tentang perhatian orang tua, aku justru bekerja menggantikan peran mereka. Hidup berubah tanpa permisi tanpa aba-aba, tanpa ampun. Ada masa di mana langkahku terasa keciluntuk jarak yang tiba-tiba memanjang. Ada masa di mana bahuku yang rapuh dipaksa menampung dunia yang bukan seharusnya kutanggung sendirian.

Ada masa ketika aku ingin menangis, tapi air mata terasa seperti kemewahan yang tidak boleh kusebabkan. Adamasa ketika aku ingin runtuh, tapi aku tahu jika aku jatuh… tak ada yang akan memungut serpihanku.

Ayahku dulu lelaki yang kukenal dengan suara tawa paling keras di rumah kecil kami. Tapi sejak alkohol menjadi sahabatnya, suara itu hilang digantikan makian, amarah, dan tangan yang tak lagi tahu batas. Ibuku bekerja sebagai buruh cuci ompreng di sebuah warung makan, pulang dengan tubuh lelah dan bau sabun cuci piring yang tebal.Gajinya nyaris tak cukup untuk membeli beras, apalagi membiayai sekolah kami bertiga.

Jadilah aku bekerja setelah sekolah. Aku pikir selama aku pintar membagi waktu, hidup akan baik-baik saja. Tapi ayah selalu datang membawa badai.

“Gunanya lu belajar apa? Mending lu cari duit buat gue!” Kalimat itu seperti palu yang menghantam kepalaku setiap hari.

Suatu subuh, ayah pulang dengan langkah terhuyung. Pintu lusuh hampir jebol oleh pukulannya.

“Ayah baru pulang?” tanyaku sambil membuatkan kopi pahit. “Lo buta?!”

Gelas kopi melayang, pecah di lantai. Ibu terbangun, Dila menangis kecil. Ketika ayah hendak memukul ibu, akumenahan. Pukulan itu jatuh ke tubuhku. Berkali-kali. Sampai akhirnya aku pergi ke sekolah dengan lebam di wajah.

“Aldi, muka lu kenapa?” tanya Dika. “Gak papa. Aku udah biasa.”

Tapi tidak ada yang benar-benar terbiasa dihancurkan oleh orang tuanya sendiri.

Sore itu… rumah kami berubah menjadi medan perang. Suara pecahan piring membuatku berlari. Ayah berdiri dengan kayu di tangan, matanya merah. Ibu meringkuk di lantai. Dila menjerit dari kamar.

Aku memeluk ibu, menjadi perisai yang tak punya tameng.

“Anak anjing! Minggir!” Suara Ayah yang mencincang habis perasaanku Aku berdiri di depannya, menggigil, tapi tetap menatapnya.

“Ayah sadar nggak… Ibu kerja. Ibu capek. Ayah cuma pulang untuk marah dan memukul.” Tamparan ayah mendarat di pipiku, keras.

Tetangga datang. Pak RT menahan ayah. Dan malam itu adalah batas kehancuran tubuhku, melihat ibuku yang berlumur letih dan air mata, aku melapor ke polisi.

Ayah dipenjara dua tahun.

Dua tahun itu berjalan seperti dua musim panjang yang penuh sunyi. Kami hidup lebih tenang, meski tetapmiskin. Aku bekerja, belajar, dan mulai berani bermimpi. Aku ingin kuliah di Universitas Indonesia. Aku ingin keluar dari lingkaran gelap ini.

Kini usiaku delapan belas. Bulan ini, ayah bebas.

Aku bukan senang. Yang ada hanya takut-takut duniaku diguncang lagi. Tapi aku tetap bersiap. Aku inginmemperjuangkan beasiswaku. Aku ingin keluar dari kenyataan pahit ini.

Kami menjemput ayah. Ia berdiri dengan wajah masam. Ketika ibu hendak memeluknya, ia menepis tangan itu begitusaja. Rasanya seperti melihat luka yang menganga dua tahun lalu kembali dibuka.

Sesampainya di rumah, aku mengajak adikku memasak. Makan siang sederhana tersaji di meja.

Setelah semuanya selesai, aku duduk di ruang tamu.

“Ayah, Ibu… aku mau bicara. Aku mau ambil beasiswa kuliah di Universitas Indonesia. Empat bulan lagi aku mungkin berangkat.”

Ibu menatapku bangga. Tapi ayah… “BATALIN.”

“Kenapa, Yah?”

“GUE BILANG BATALIN!”

Meja digebrak. Piring bergetar.

“Gak ada gunanya sekolah tinggi! Lo kerja aja! Lo pikir gue mau anak gue kuliah segala? Buang-buang duit!”

Suara ayah seperti badai yang sudah pernah menghancurkan seisi rumah yang kubangun dengan trauma. Tetapi kali ini… aku tidak diam.

“Ayah…” Suara itu keluar pelan, tapi getarannya membuat seluruh tubuhku merinding. Aku berdiri. Tanganku dingin. Jantungku memukul kuat dada.

“Ayah tahu nggak? Selama ini aku diam bukan karena takut. Tapi karena aku sayang. Karena aku nggak mau adik-adik trauma. Karena aku nggak mau Ibu tambah sakit.”

Ayah terdiam. Mungkin terkejut karena aku berani bicara.

“Tapi setiap kali Ayah bilang aku nggak pantas sekolah… Ayah tau nggak rasanya? Rasanya aku bukan manusia. Aku cuma mesin pencetak uang.”

Dadaku naik turun. Air mata yang kutahan sejak kecil tiba-tiba jatuh tanpa permisi.

“Aku cuma mau sekolah, Yah… supaya hidupku nggak berakhir di tempat yang sama. Aku mau nunjukin kalau keluarga kita bisa keluar dari semua ini…”

Ibu memegangi dadanya. Dila menangis perlahan.

“Tapi terus Ayah larang lagi… larang lagi… pukul… maki… seolah aku nggak pernah cukup.”

Aku mengusap air mata yang jatuh.

“Ayah bilang Ayah udah besarin aku. Tapi selama ini, Yah… yang ngebesarin aku itu luka. Bukan Ayah.”

Ayah terpaku. Tatapannya mulai goyah.

Di detik itu, aku melihat sesuatu pecah di matanya bukan amarah. Tapi rasa bersalah yang sudah lama terkubur.

“Aku cuma minta kesempatan. Sekali saja. Biarkan aku sekolah. Biar aku punya hidup yang nggak harus diulang sama Dila dan Rafi.”

Ruangan itu sunyi. Amat sunyi. Lalu… sesuatu terjadi.

Ayah merosot perlahan ke lantai. Bahunya bergetar. Untuk pertama kalinya sejak aku lahir… aku melihat ayah menangis.

“Gue… gue salah…” suaranya parau. “Gue cuma takut lo ninggalin keluarga ini… takut gue gak berguna… takut lo jadi lebih hebat dari gue…”

Ia memegang kepalanya, menangis seperti anak kecil. “Gue cuma iri. Lo kuat… gue nggak.”

Aku tertegun. Ibu menutup mulut, menahan tangis. Dila memelukku dari belakang. Ayah memandangku sambil terisak.

“Kalo itu bisa benerin semuanya… kalo itu bisa bikin lo hidup lebih baik… pergi. Kejar beasiswa itu.”

Suara itu pecah, patah, tapi jujur.

“Ayah nggak mau jadi batu yang ngehalangin masa depan lo lagi.” Air mataku turun deras. Aku mendekat pelan.

“Ayah… aku pergi bukan buat ninggalin kalian. Aku pergi supaya suatu hari… aku bisa pulang membawa hidup yang lebih layak.”

Ayah menunduk, memeluk lututnya sendiri. “Maafin gue…”

Aku berjongkok dan memeluknya. Tubuhnya bergetar.

Dan untuk pertama kalinya… rumah kecil kami terasa hangat, bukan karena tidak ada masalah, tetapi karena akhirnya, seseorang yang lama hilang… kembali pulang.

Empat bulan lagi aku akan berangkat. Bukan untuk kabur.

Tapi untuk pulang dengan cahaya.

Cahaya yang selama ini tak pernah ada di rumah kami.

Dan kali ini… aku pergi dengan restu. Dengan harapan. Dengan keluarga yang akhirnya mulai kembali utuh.

Aku tidak tahu apa yang menunggu di ujung perjuangan ini. Tapi untuk pertama kalinya dalam hidup… aku merasatidak sendirian. Aku merasa dicintai, meski caranya terlambat, meski caranya tidak sempurna.

Namun akhirnya, cinta tetaplah cinta.

Dan aku… akhirnya bisa bermimpi tanpa takut dipatahkan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *